Setelah lebih dari satu dekade banyak dibicarakan, gedung bisokop dan studio akhirnya memutar film dengan menggunakan proyektor digital. Dan alat canggih ini memiliki keunggulan menampilkan gambar lebih tajam, lebih terang tanpa gangguan gambar pecah, suara letupan atau putaran yang mendesis. Minggu ini, Sony Electronics akan meluncurkann proyektor yang menjawab masalah ketajaman gambar di bawah standar di era sinema digital.
Studio-studio film, tahun lalu sepakat untuk mendapatkan teknologi standar dalam dunia sinematografi, yang membolehkan komponen-komponen dari berbagai pabrik berbeda melakukan pertukaran. Komponen-komponen tersebut termasuk proyektor itu sendiri, dan komputer untuk menghantarkan film serta suara, sofware yang membuat ringkas digital ukuran besar dan dilengkapi sistem keamanan untuk mencegah pembajakan.
Para pemilik studio dapat menghemat jutaan dollar setiap tahun dengan menggunakan versi digital di gedung bioskop mereka. Sebaliknya dengan pita film, seperti yang digunakan sebelumnya, memiliki resiko mudah tergores dan kotor serta hanya bertahan dalam beberapa minggu dan harus diganti.
Pada awalnya dua grup finansial bersedia untuk memasang proyektor dengan resolusi '2K', atau sekitar dua juat pixel (titik-titik cahaya yang akan menyatukan gambar digital), di gedung bisokop milik mereka. Keutungan utama dari proyektor '2K' ini, antara lain: lebih stabil, gambar yang tetap, walau sebagai imbal-baliknya, warnanya seringkali tidak sedalam dan sekaya yang dihasilkan oleh film.
Akhir minggu ini, Sony akan mulai melakukan tes pada jenis proyektor baru produksinya, '4K', yang mampu menampilkan gambar dengan 8 pixel secara horizontal. Perusahaan ini juga telah memasang satu proyektor di sebuah gedung bisokop Los Angles, yang akan menayangkan film produksi Sony Picture, THE DA VINCI CODE dalam minggu-minggu ini. Sony juga menjalin kerjasama dengan badan National CineMedia, gabungan dari AMC Entertainment Inc., Cinemark USA Inc. dan Regal Entertainment Group, bulan depan akan memasang proyektor baru tersebut di dua gedung bisokop mereka.
Film, juga dapat didistribusikan dalam beberapa cara lain. Dalam uji coba baru-baru ini, proyektor produksi Sony dapat menayangkan film dengan media komputer. Film juga dapat di sorotkan di terater lewat satelit atu dikirim lewat kabel fiber-optic, seperti dalam kasus percobaan di Jepang yang diselenggarakan Warner Bros. dan Sony Pictures.
Poyektor 4K ini menjanjikan tampilan lebih kaya warna dan kekontrasan yang lebih baik, serta dapat memberikan kepuasan bagi para penonton film di bioskop. Akan tetapi, perbedaan besarnya akan terlihat bagi penonton yang menyakiskan paling dekat dengan layar film, dimana dapat terlihat jelas ketajaman gambar tanpa mendapat gangguan pixel individual, seperti biasa terjadi pada teater dengan proyektor '2K.'
Baru-baru ini, Sony juga melakukan uji coba dengan film klasik tahun 1965, THE SOUND OF MUSIC. Ditayangkan dengan menggunakan proyektor 4K, terlihat jelas tampilan dari dua rambut yang melekat di kepala si bintang, Julia Andwers dan dapat dilihat pula dengan jelas detail gelombang dari pakaian yang dikenakannya.
Penambahan kualitas ini tentunya jadi daya tarik tersendiri bagi para pemilik gedung bisokop, yang mencari-cari cara untuk membuat bisnis tontonan ini laku keras, apalagi saat media home theater kian canggih saja.
Saat ini, proyektor digital sendiri sudah terpasang di sekitar 500 gedung bisokop di AS. Proyektor sistem digital biasa kini harganya mencapai US$ 100.000, dan 4K akan dipasaran dengan harga yang lebih tinggi.
